Cinta Buta vs Benci Buta dan Cara Mengatasinya

by -129 views

Hal ini bukan tanpa sebab. Sebab utamanya adalah “Cinta Buta” yang bisa mengalahkan nalar atau akal sehat kita. Cinta buta membuat kecintaan yang berlebihan, cinta yang berlebihan bisa juga menghadirkan kebencian yang akhirnya melahirkan “Benci Buta”.

Benci buta, tidak kalah berbahayanya dengan cinta buta. Dari kebencian bisa melahirkan kata “asal bukan” yang artinya siapapun boleh menjadi asal bukan orang yang dia benci, sehingga mengenyampingkan kualitas maupun program yang ditawarkan.

Cinta dan benci buta ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk memuluskan ambisi mereka, menarik simpati dengan biaya yang jauh lebih murah.

Karena menurut Prof. Mujib cinta buta dan benci buta yang berlebihan akan membahayakan. Cinta buta dan benci buta itu akhirnya membuat orang tidak lagi melihat dunia sebagaimana adanya. Ukuran baik dan buruk, benar dan salah, sudah tidak berlaku lagi. Apapun yang dikatakan dan dilakukan sang idola adalah baik dan benar, dan apapun yang dikatakan dan dilakukan lawannya selalu buruk dan salah. Kebaikan seolah menyatu dalam diri sang idola dan kejahatan menyatu dalam diri lawannya.

Dari fenomena ini, saya mengetahui bahwa tidak hanya ada cinta buta tetapi juga ada benci buta. Lantas bagaimana kita bisa terhindar dari sikap cinta buta dan benci buta?

Sebagaiaman kata Prof. Mujib sikap yang tepat adalah posisi tengah antara dua sisi yang berlebihan itu. Inilah yang disebut moderat atau wasathiyyah.

“Cintailah kekasihmu sewajarnya. Boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci sewajarnya. Boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kaucintai,” kata Nabi.

Kemudian kita harus kembali dan berpegang kepada “pusat”. Pusat itu berada di tengah. Pusat itua dalah asal sekaligus arah. Matahari adalah pusat galaksi. Ka’bah adalah pusat ibadah. Hati nurani adalah pusat kesadaran. Nabi adalah pusat agama. Tuhan adalah pusat segalanya. Ketika pusat terlepas, maka orang terlempar keluar orbit, tak tentu arah.

Jangan menjadikan politisi sebagai pusat kita, karena dia adalah manusia biasa seperti kita. Namuan ia bisa menjadi pusat perhatian tidak pusat bergantung. Mulialah para politisi idola yang menjadi pusat perhatian yang tidak terlepas dari pusat kehidupan yang sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *